Membayangkan Kembali Kontribusi Sosial melalui Pandangan Ibn Khaldun tentang Pekerjaan

Pertanyaan tentang apa yang membentuk nilai dan bagaimana masyarakat seharusnya mengukurnya telah lama menyibukkan para pemikir lintas peradaban. Bagi Ibn Khaldun, yang menulis pada abad keempat belas, pekerjaan adalah sumber fundamental nilai dalam seluruh kehidupan ekonomi dan sosial. Pemikirannya, yang dikaji kembali dalam The Bridge of Becoming: Reimagining Work and Capital through Ibn Khaldun and Western Economic Thought, mendahului perdebatan Barat tentang teori nilai tenaga kerja sekaligus menempatkan kerja dalam kerangka moral dan peradaban yang lebih luas. Tidak seperti pendekatan yang meninggikan modal, hak istimewa, atau kepemilikan sebagai sumber kekayaan yang berdiri sendiri, Ibn Khaldun menegaskan bahwa setiap bentuk penghasilan—baik pertanian, kerajinan, perdagangan, maupun administrasi—pada akhirnya bertumpu pada kerja manusia. Tindakan mengubah bahan mentah menjadi barang yang dapat digunakan, atau menyusun masyarakat ke dalam keteraturan yang fungsional, adalah fondasi tak tergantikan dari nilai itu sendiri.

Wawasan ini tidak hanya terbatas pada urusan manusia tetapi juga dapat diperluas ke dunia alam. Pada tingkat paling dasar, kehidupan di bumi dipertahankan oleh kerja dalam bentuk transformasi energi. Tumbuhan melakukan fotosintesis, bekerja menangkap sinar matahari dan mengubahnya menjadi energi kimia. Proses ini menopang seluruh rantai makanan, memastikan bahwa energi tersedia bagi herbivora, karnivora, dan manusia. Tanpa kerja mendasar dari tumbuhan ini, materi bumi akan tetap tidak berguna, tidak layak menopang kehidupan. Demikian pula, kerja ekosistem yang tak kasat mata—lebah yang menyerbuki tanaman, lahan basah yang menyaring air, mikroba yang menguraikan materi organik—membentuk jaringan besar kerja yang menjaga keseimbangan dan kesinambungan biosfer. Bahkan proses geologis dan iklim, seperti siklus air atau pembentukan tanah secara perlahan, dapat dipahami sebagai bentuk kerja alami, yang mentransformasi materi dan energi menjadi kondisi yang ramah bagi kehidupan.

Masyarakat manusia mereproduksi logika alami ini dalam bentuk budaya dan ekonomi. Petani yang menanam tanaman, pengrajin yang membentuk bahan mentah menjadi alat, dan guru yang membentuk pikiran generasi muda semuanya terlibat dalam kerja transformatif yang menambah nilai bagi komunitas. Ibn Khaldun menekankan kerajinan khususnya, dengan mencatat bahwa kerajinan menghasilkan barang yang nilainya melampaui bahan mentahnya justru karena keterampilan dan usaha yang diinvestasikan. Namun di luar produksi material, ada bentuk kerja yang tidak berwujud tetapi sama pentingnya: upaya pemerintahan yang menopang keadilan dan stabilitas, kerja intelektual para ilmuwan dan inovator yang memperluas cakrawala pengetahuan, serta perawatan yang tidak dibayar tetapi esensial yang menopang rumah tangga dan komunitas. Bentuk-bentuk kerja ini sering kali tetap tak terlihat dalam ukuran ekonomi konvensional, namun tanpa mereka, struktur sosial akan runtuh.

Pengabaian nilai kerja semacam itu menimbulkan pertanyaan mendesak tentang keadilan. Sistem ekonomi modern sering kali lebih mengutamakan akumulasi modal, pencarian rente, atau kepemilikan dibanding kerja langsung. Kekayaan sering kali dihasilkan melalui mekanisme yang terlepas dari usaha produktif nyata, baik melalui spekulasi keuangan, warisan, maupun kekuatan monopoli. Pemisahan modal dari kerja ini berisiko menutupi fondasi sejati nilai sosial, dan sebagaimana diperdebatkan dalam artikel yang dikutip di atas, berkontribusi pada ketidaksetaraan dan ketidakstabilan. Kerangka Ibn Khaldun menawarkan koreksi dengan menempatkan kembali kerja sebagai prinsip generatif dari kekayaan, budaya, dan peradaban. Mengadopsi pandangan ini hari ini berarti tidak hanya meninjau kembali teori ekonomi, tetapi juga kebijakan, memastikan bahwa semua bentuk kerja—terlihat maupun tak terlihat, dibayar maupun tidak dibayar—diakui dan dihargai secara layak.

Implikasinya melampaui sekadar upah dan produktivitas. Jika kerja dipahami sebagai fondasi universal nilai, maka kerja tanpa bayaran para pengasuh, kerja ekologis spesies non-manusia, dan kerja intelektual para peneliti semuanya adalah kontribusi tak tergantikan bagi kebaikan bersama. Penilaian yang adil membutuhkan lebih dari sekadar penyesuaian pasar. Hal itu memerlukan komitmen moral dan institusional untuk menghormati martabat kerja dalam segala bentuknya. Pengakuan semacam ini menuntut perancangan kebijakan sosial yang mendukung pengasuhan, pengelolaan lingkungan, dan pendidikan, sekaligus membatasi hak istimewa yang tidak sepadan dari pendapatan tanpa usaha dan ekstraksi rente.

Dalam alam maupun masyarakat manusia, tidak ada sesuatu yang bernilai yang hadir tanpa kerja. Kerja fotosintesis tumbuhan, usaha tak terlihat para penyerbuk, transformasi material oleh pengrajin, pengajaran ilmu pengetahuan, perawatan keluarga—semuanya adalah untaian dalam jaring keberadaan yang menopang kehidupan dan peradaban. Melupakan kebenaran ini berarti berisiko membangun masyarakat yang mengeksploitasi alih-alih menopang, yang runtuh alih-alih bertahan. Mengingatnya, sebagaimana ditekankan Ibn Khaldun berabad-abad lalu, berarti mengakui bahwa kerja bukan sekadar kebutuhan ekonomi, tetapi fondasi ontologis dari keberlangsungan manusia dan ekologi.


Komentar ini merupakan tinjauan atas artikel: The Bridge of Becoming: Reimagining Work and Capital through Ibn Khaldun and Western Economic Thought.